Mungkin tak banyak yang menyadari, telah terjadi pergeseran demografi audiens media di Indonesia. Media cetak yang dulu identik dengan pembaca tua, kini audiens-nya kian meremaja. Merosotnya tingkat konsumsi media tradisional misalnya, selama ini lebih banyak ditinjau terkait agresifitas penggunaan media online. Jarang yang meninjaunya di aspek karakteristik dan perilaku demografik. Tapi ketika secara berturut-turut mendapatkan sejumlah penghargaan berbasis demografik, baik di tingkat Nasional maupun Internasional, makin banyak kalangan akhirnya sadar, bahwa isu ini krusial. Bahkan menjadi penentu wajah lansekap media Indonesia, ke depan.
Menurut survey Roy Morgan, generasi Millenial dalam komposisi pembaca Koran Jawa Pos, mencapai 56% (bahkan di area Greater Surabaya mencapai 58%) dari total readers. Sejumlah 70%-nya adalah perempuan. Data statistik ini membantu menjelaskan, kenapa JP langganan jadi juara kompetisi berbasis demografik.
Karakter generasi Millenials ini sebenarnya berbeda antar satu dan lain Negara. Tapi efek borderless dari globalization, juga konsekuensi percepatan perubahan yang di-drive pengaruh social media,serta beragam bentuk inflitrasi Western culture, membuat profil Millennials praktis saling mirip satu-sama-lain.
Beberapa sifat umum generasi Millenials misalnya: self-centered, dan overconfident. Walau kerap dianggap pemalas dan generasi anak manja, mereka juga optimistis, sekaligus pragmatis. Haus perhatian, narsistis, butuh pengakuan dan suka tindakannya diapresiasi.
Sayangnya, para Millenials ini juga identik dengan perilaku anti-kemapanan, dan tak suka serba-diatur. Sehingga di mata yang lebih senior, mereka ini dianggap kurang memiliki komitmen, apatis, empatinya minim, tidak disiplin, dan semau gue.
Dalam hal habit bermedia, para Millenials umumnya adalah gadget freak. Sehari-hari, mereka mempersenjatai diri dengan minimal dua gadget, atau smart phone,atau kombinasi digital devices lainnya.
Umumnya, piranti digital yang dipakai, berkemampuan sebagai kamera foto atau perekam video. Ini substansial bagi Millenials. Sama pentingnya dengan kebiasaan rajin meng-update status tentang yang sedang mereka konsumsi, lakukan atau pikirkan. Karena para Millenials ini ingin apa pun tentang mereka, orang lain ikut tahu, dan ramai membicarakannya.
Padahal, isi percakapan antar-sesama Millenials sebenarnya cuma hal-hal yang remeh temeh dan ‘tak penting’. Tapi, mereka melakukan dengan antusias. Seakan yang dilakukan adalah hal yang penting. Maka, yang buat kebanyakan orang dianggap perkara sepele, jangan buru-buru disimpulkan layak diabaikan. Karena jika para Millenials asyik mempercakapkannya, berarti itu perkara penting –setidaknya buat mereka.
Mau tak mau, pertumbuhan segmen ini akan dan telah sangat mempengaruhi industri komunikasi, pemasaran, keuangan & perbankan, gaya hidup (traveling, shopping, dining) –termasuk mendorong berubahnya cara pengemasan dan penyajian serta pengaturan menu di resto cepat saji. Bahkan hingga mempengaruhi peran, fungsi dan cara baru bermedia.
Para politisi pun, mau tak mau, harus aware dengan perubahan ini. Agar ke depan bisa menjangkau dan merangkul kaum Millenials ini, menjadi konstituennya. Artikel lama tentang upaya Presiden AS Barack Obama menggaet segmen ini di masa kepresidenan yang pertama dan kedua, layak jadi pelajaran.
Gemar bertukar konten , pesan, data, visual adalah ciri kaum Millenials. Tapi yang mereka butuhkan bukan sekadar informasi, pesan atau berita ‘biasa’ dalam paradigma lama. Kriteria informasi yang dibutuhkan para Millenials ini adalah harus memiliki social meaning. Relevan secara kontekstual. Memperkuat bargaining bagi peers. Tak cukup sekadar shareable atau ramai jadi perbincangan khalayak, tapi pengaruhnya harus impactful.
Kunci: Relasi media-audiens secara vertikal tak relevan lagi. Media harus menjadi bagian dari ‘kepentingan’ Peers. Menjadi part of the show. Karena bagi para Millenials ini, Media adalah perwujudan social idea. Medium partisipasi yang memungkinkan terjadi engagement. Sekaligus menjadi pencetus movement effect.
Bagi Millenials, Desain adalah aspek penting. Bukan sekadar pembeda, tapi merupakan cost of entry. Tapi seperti kata Steve Jobs, ‘Desain’ bukan sekadar soal bentuk atau rancang-bangun. Tapi tentang bagaimana secara fungsional, pengguna bisa mendapatkan kemanfaatan. Dalam hal penampilan misalnya, influencer dalam suatu peers, berkebutuhan bisa tampil cool dan menjadi trend-setter di mata audiens mereka. Begitu pun dalam mementukan pilihan merek atau produk, aspek desain, pun kemasan juga tampilan, menjadi pertimbangan utama.
Kunci: kecocokan chemistry antara spirit Millenials, terhadap imej merek, kemasan produk atau penyajian konten yang dipilih, mutlak. Media yang bisa diterima Millenial, adalah produk yang mengkombinasikan aspek jurnalisme editorial, desain kemasan dan content development. Yang bisa menunjang mereka tampil keren karena bikin mereka unik dan ‘berbeda’, well-informed atau lebih dulu tahu tentang sesuatu misalnya berpeluang dipilih.
Millenials juga cenderung lebih percaya ‘orang tak dikenal’, ketimbang kepada Merek. Para Generasi Y ini, umumnya sudah kebal propaganda iklan, iming-iming promosi atau bujuk-rayu salesman. Karena sejak lahir, mereka sudah dikepung dan dihujani bombardir pesan iklan dan promosi. Baik melalui media tradisional maupun online. Karena itu, mereka sudah imun. Mereka lebih percaya pendapat peers. Tapi sebagai kelompok kepentingan, peers ini lebih percaya kepada pendapat/opini ‘orang bahkan yang tak mereka kenal sekali pun ketimbang patuh kepada brand owner.
Satu sama lain Millenials umumnya saling connected 24 jam. Tapi mereka ternyata tetap butuh terlibat dalam percakapan personal. Media online atau social media memang menjadi piranti mereka saling berkomunikasi atau bertukar konten pesan yang umumnya isinya remeh temeh dan ‘tak penting’. Tapi digital platform bukan yang mereka gunakan, ketika membicarakan agenda krusial ‘mereka’ misal, terkait nasib, masa depan, dan peluang. Pembicaraan personal, secara face to face lebih mereka sukai.
Kunci: Media harus menyediakan sebanyak mungkin model dan saluran interaksi. Keterbacaan konten serta interaktivitas percakapan secara digital, tak mencukupi kebutuhan para Millenials ini. Bagaimana pun engagement paling optimal, adalah dengan kopdar. Gathering, reriunganatau jumpa secara offline, sangat direkomendasikan.
Walau mengakrabi kaum Millenials bukan soal gampang, tapi memahami kemauan mereka, mau tak mau, kini menjadi hal mutlak. Atau kita kehilangan peluang bisnis hebat di masa depan. Kita yang pilih.