Dampak dari dunia digital dan revolusi industri 4.0 sudah mulai terasa. Persaingan di pasar industri pun begitu pesat. Bukan hanya antar manusia dan produk yang dihasilkan, tetapi proses kerja manusia dan kecepatan mesin digital menjadi ancaman serius. Maka itu, banyak perusahaan saat ini lebih memilih mempekerjakan robot daripada manusia.

Setidaknya, ada dua ancaman serius yang kini dirasakan di era ini sejak tahun 2016 lalu setelah berakhirnya era industri 3.0. Diperkirakan sekitar 1 sampai 1,5 pekerjaan sepanjang tahun 2015-2025 akan hilang karena digantikan dengan mesin otomastis. Dan yang kedua pun ini tak kalah mengejutkan, diperkirakan diestimasikan bahwa di masa yang akan datang, 65% murid sekolah dasar (SD) di dunia akan bekerja pada pekerjaan yang belum pernah ada di hari ini. Ini sungguh terlalu, dan murid SD yang saat ini sedang bersekolah, belum lagi anak PAUD atau anak-anak yang baru direncanakan akan lahir.
Selanjutnya Revolusi Industri sudah menjadi tuntutan sesuai kebutuhan zaman yang tidak bisa dihindarkan. Kita harus siap menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan berfikir kritis, kreatif, komukasi, dan bekerjasama. Dengan harapan juga akan melahirkan generasi yang kompetitif dan berdaya saing tinggi.
Dalam mendorong pengembangan pariwisata, pada tahun 2018 Arief Yahya selaku menteri Pariwisata menekankan pentingnya perkembangan teknologi dalam mendorong sektor pariwisata di Indonesia.
Oleh karenanya Kementeriannya mendorong Pariwisata 4.0 agar membawa hasil signifikan pada sektor pariwisata Indonesia. Peringatan Hari Pariwisata Dunia (Word Tourism Day) sudah diperingati pada 28 september 2018 yang lalu dengan membawa tema “Tourism and The Digital Transformation” atau sebagai Tahun Pariwisata dan Transformasi Digital.
Namun dalam penerapan menuju Pariwisata 4.0 dibutuhkan unsur lain, salah satunya adalah Generasi milenial yang sudah berkompeten dalam industri revolusi 4.0. Generasi Milenial adalah generasi yang berusia antara 22 tahun sampai 37 tahun dengan rata-rata kelahiran antara tahun 1981 hingga tahun 1996.
Menurut survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Generasi Milenial menjadi paling dominan dalam penggunaan internet. Internet sangat bermanfaat mengenalkan potensi wisata daerah kepada semua orang baik dalam skala nasional maupun internasional.
Dapat melihat generasi milenial yang lebih suka menghabiskan waktu dan materi untuk piknik. Ini tentu akan sangat baik ketika pemanfaatan internet dengan suka piknik dikolaborasikan dengan pengenalan tempat piknik kedalam dunia digital. Dan dua hal ini dimiliki oleh generasi milenial.

Dan yang terjadi sekarang adalah
Di era Revolusi Industri 4.0, berbagai jenis pekerjaan profesi diprediksi akan hilang dan digantikan dengan robot atau komputer. Pekerjaan yang sangat rentan hilang adalah pekerjaan yang repetitif. Bahkan sudah berkembang kepada pekerjaan yang sudah mengandalkan skill tinggi dan pengetahuan. Pekerjaan yang diprediksi akan hilang seperti pemberi layanan konsumen (costumer service), supir, kasir bank, penerjemah, apoteker, DJ radio, pengarang lagu, dan bahkan pengarang buku. Layanan konsumen saat ini bisa digantikan dengan robot chat yang secara otomatis menjawab pertanyaan konsumen, supir digantikan oleh teknologi kendaraan tanpa supir, kasir bank sudah digantikan mesin otomatis transfer atau menarik uang, penerjemah digantikan alat atau aplikasi yang level akurasinya mendekati 100%, sudah ada perangkat lunak yang menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat lagu, dan bahkan sudah ada perangkat lunak yang bisa menjawab permasalahan hukum yang lebih akurat dan efisien dari pengacara.
Sementara itu pekerjaan yang terkait dengan skill tinggi, terkait dengan teknologi, dan bukan bersifat repetisi diprediksi akan bertahan. Pekerjaan tersebut seperti pekerjaan dalam industri kreatif, Information Technology, manajer, profesional, layanan kesehatan, pendidikan, dan jasa konstruksi akan bertahan.
Di Indonesia sendiri beberapa industri otomotif sudah mulai melakukan automasi. Industri perbankan bergerak cepat melakukan automasi dan memangkas ribuan buruh. Hanya Bank Mandiri dan BRI yang konsisten menambah jumlah buruh dalam tiga tahun terakhir. Sementara jumlah buruh di Bank BCA pada tahun 2018 menurun 2%, BNI menyusut 1169 orang pada tahun 2018, dan penyusutan terbanyak adalah Bank Danamon yang memiliki buruh sebanyak 44.019 pada 2016 menjadi hanya 32.299 pada 2018 atau berkurang 11.720 orang. Tidak heran serikat buruh berpendapat bahwa Revolusi Industri 4.0 berdampak pada banyaknya jumlah pengangguran.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2224388/original/090279700_1527054915-revolusi_industri.jpg)
Riset memprediksi bahwa sebanyak 800 juta pekerjaan akan hilang digantikan dengan automasi pada tahun 2030. Kemudian sebanyak 30% dari waktu kerja secara global dapat digantikan dengan mesin otomatis pada tahun 2030 tergantung seberapa cepat sistem automasi dijalankan. Meskipun demikian jenis pekerjaan baru yang terkait dengan automasi akan muncul. Mckinsey juga memprediksi sebanyak 375 juta pekerja di seluruh dunia (14% jumlah pekerja di dunia) akan membutuhkan transisi ke pekerjaan baru yang terkait dengan skill baru. Jika transisi ke pekerjaan baru berlangsung lambat, maka angka pengangguran dapat meningkat dan pertumbuhan upah akan menurun. maka dari itu dampak dari revolusi industri 4.0 sangan besar bagi masyarakat di Indonesia

Gambar di atas merupakan gambaran dari dampak terjadinya revolusi industri 4.0 yang akan selalu membutuhkan tenaga kerja robot, dari pada skill atau kemampuan yang di miliki oleh manusia. dan jika dibiarkan menurut saya lama kelamaan kehidupan manusia akan bertergantungan oleh adanya robot, jika tidak di cegah dengan selalu menggunakan skill atau kemampuan yang manusia miliki, maka akan terjadilah seperti gambar diatas.

Memang dalam era ini kita sangat dipermudah untuk berkomunikasi dengan orang yang belum kita kenal atau pun yang sudah kita kenal. tetapi jika terus seperti ini manusia bisa di perudak oleh adanya internet dan akan hidup bertergantungan. jadi seharunya bisa menyeimbangkan, dimana saatnya kita menggunakan internet atau media social, dan dimana kita saatnya menggunakan buku dan berkomunikasi langsung dengan semua orang agar bisa mengetahuin sesuatu yang sebenarnya terjadi, dan tidak akan timbul adanya hoax. Terima kasih