Bali Sebagai Destinasi Wisata yang Siap Bersaing di Era Globalisasi

Baik, disini saya akaan membahas tentang bali sebagai destinasi wisata yang siap bersaing di era globalisasi. Pada kesempatan ini globaalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. … Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, keterhubungan ekonomi dan budaya dunia berlangsung sangat cepat.

Image result for era globalisasi

seperti yang anda ketahui, zaman semakin lama akan semakin mengalami peningkatan dalam bidang teknologi dan sejenisnya. tetapi yang kita bahas ini adalah Bali yang siap bersaing di era globalisasi. Yaitu Bali sekarang sudah mulai menggunakan teknologi sebagai sarana dalam penjagaan, pembayaran dan lain sebagainya.

apa lagi seakrang di haruskan untuk mengikuti UNBK setidaknya Bali bisa menyediakan komputer untuk melaaksanakan UNBK ini.

Image result for unbk

dan bali juga harus bisa menyediakan jaringan untuk mengakses UNBK. Namun, Bali yaang sekarang telah melaksanakannya, dan banyak suddah di mulai UNBK dari 1 tahun lalu. dan ini salah satu fakta bahwa Bali siap bersaing di dunia era globalisasi. bahkan tidak hanya itu, sekarang pun di Bali sudah tersedia pembayaran online, pajak online, dan lain sebaagainyaa.

Bali juga siap dalam bersaing di era globalisasi di karenakan banayaknya wisatawan yang membawa gaya hidunya ke Bali, dan dengan zaman sekarang mencari informasi lebih mudah di media sosial di banding koran atau berita lainnya. jadi pada zaman seakrang peenggunaaan kkomunikasi juga mulai banyak yang memakainya.

Image result for era globalisasi

Bali mau tidak mau harus menyediakan alat komunikasi ini agar bisa juga mempermudah aktifitas yang sedang berlangsung di Bali, dan juga bisa membantu aparat kepolisian untuk mengejar tersangka yang sudah di cari carinya

dan bali juga mualai memberikan leptop untuk anak sd di daerah badung bali. memberikan secara geratis dan bagus. Bahkan di setiap banjar sekarang sudah di pasangi wifi. Maka dari sana kita pun dapat memngira bali pasti bisa bersaing di dunia era globalisasi ini. dan Bali mulai seakrang sedang gencar gencarnya untuk meningkatkan teeknologi agar wisatawan yang datang bisa mengnggap bali adalah rumah keduanya saat sedang istirahat.

Image result for era globalisasi

dengan kemajuan teknologi bali mungkin akan bisa menjadi provinssi indonesia yang baanyak di gemari karena teknologi, budaya dan adat istiat yang sangat di jaga baik oleh masyarajat bali. Dengan adanya era globalisasi bali mungkin bisa meningkatkan standar ekonomi di daerahnya, dan juga dapat membuat tamu senang dan ingin datang lagi.

Image result for era globalisasi

Jadi di era globalisasi ini Bali akan bisa bersaing dengan baik apa bila Bali mengetahui jika teknologi dapat merubah perekonomian daerah dengan cepat , apa lagi bali sudah memiliki banyak daerah wisata dan jika di tambahkan teknologi. maka daerah wisata itu akan menjadi semakin lebih baik. dan Bali pun semakin bisa berssaing di era globalisasi.

Usaha Yang Saya ingin Buat Jika Ada kesempatan

Baik, disini saya akan menjelaskan usaha yang saya akan buat jika suatu nanti saya memiliki kesempatan untuk membuat usaha. Usaha yang akan saya buat adalah usaha makanan ringan yang sedang di gemari oleh banyak kaum remaja atau bisa disebut kaum milenial. Contohnya adalah makanan seperti pisang goreng coklat yang di bungkus menggunakan adodan dadar yang berisikan lumeran coklat dan pisang, saya tidak hanya menggunakan rasa coklat saja, bisa saja saya menggunakan rasa green tea, blueberry, strawberry, dan rasa – rasa lainnya yang sedang di minati oleh kaum milenial ini.

Saya memilih usaha ini di karenakan, saya telah survey ke berbagai daerah yang ada di bali, bahwa makanan ringan seperti pisang goreng ini sangat banyak di minati oleh kaum remaja, bahkan tidak hanya kaum remaja saja orang dewasa dan orang sudah tua pun juga suka ddan senang menikmati pisang goreng ini. dan alasan yang lain karena kita dapat memodifikasi sebuah maknan tradisional yang dapat bersaing dengan makanan yang terkenal pada zaman sekarang ini.

Yang diatas adalah contoh hidangan yang ingin saya buat usahanya. kita dpt memulai usaha ini dengan modal yang tidak terlalu banyak, dikarenakan bahan yang murah dan dpt di beli di warung-warung kecil yang ada di dekat rumah. Maka daari itu saya sangat ingin membuat usaha ini agar makanan tradisional tidak dapat di kalahkan oleh makanan asing

Image result for gambar yang melihatkan menjaga tradisi jajanan khas daerah

Menjadi seorang pengusaha tidak lah gampang, karena banyaknya pesaing yang juga membuat usaha sama sepeerti kita. Jadi saya melakukan pemasaran melalui percakapan secara langsung, dan juga bisa melalui sosial media.

Image result for gambar usaha pisang coklat

seperti itulah contoh saya berpromosi. Teapi tidak hanya melalui interneet dan media sosial saja, tetapi kita juga bisa mempromosikannya melalui dengan mengikuti sebuah event yang sedang berlangsung di daerah tertentu, seperti membuat stand dan berjualan di dalam event tersebut.

Cara saya bertahan dalam usaha ini adalah dengan cara selalu bersyukur dan bekerja keras untuk membuat menu-menu yang dapat menarik pelanggan untuk membeli. Dan saya pun juga melihat di sosial media dengan mencari rasa apa yang lagi di gemari oleh para kaum remaja saat ini.

tidak hanya itu, jika kita ingin memiliki usaha yang lancar secara terus menerus. yang pertama kita lakukan adalah untuk bersikap sopan dan santun terhadap semua konsumen, dan tidak pernah ragu untuk menjalankan bisnis atau usaha ini. dan yang terpenting adalah penampilan lah yang dapat menarik pelanggan untuk membeli produk kita, jika kita berpenampilan buruk, maka seorang pelanggan pun akan enggan untuk mendatangi usaha kita.

Image result for gambar keramahan terhadap pembeli

Jadi kesimpulannya adalah jika ingin menjadi seseorang yang pandai berwirausaha maka kita harus memiliki mental yang kuat dan sikap tentu juga penampilan yang baik untuk menarik minat pelanggan agar datang ke tempat usaha kita.

Dampak Revolusi Industri 4.0 Terhadap Industri Pariwisata

Dampak dari dunia digital dan revolusi industri 4.0 sudah mulai terasa. Persaingan di pasar industri pun begitu pesat. Bukan hanya antar manusia dan produk yang dihasilkan, tetapi proses kerja manusia  dan kecepatan mesin digital menjadi ancaman serius. Maka itu, banyak perusahaan saat ini lebih memilih mempekerjakan robot daripada manusia. 

Image result for gambar tentang dampak revolusi industri 4.0

Setidaknya, ada dua ancaman serius yang kini dirasakan di era ini sejak tahun 2016 lalu setelah berakhirnya era industri 3.0. Diperkirakan sekitar 1 sampai 1,5 pekerjaan sepanjang tahun 2015-2025 akan hilang karena digantikan dengan mesin otomastis. Dan yang kedua pun ini tak kalah mengejutkan, diperkirakan diestimasikan bahwa di masa yang akan datang, 65% murid sekolah dasar  (SD) di dunia akan bekerja pada pekerjaan yang belum pernah ada di hari ini. Ini sungguh terlalu, dan murid SD yang saat ini sedang bersekolah, belum lagi anak PAUD atau anak-anak yang baru direncanakan akan lahir. 

Selanjutnya Revolusi Industri sudah menjadi tuntutan sesuai kebutuhan zaman yang tidak bisa dihindarkan. Kita harus siap menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan berfikir kritis, kreatif, komukasi, dan bekerjasama. Dengan harapan juga akan melahirkan generasi yang kompetitif dan berdaya saing tinggi.

Dalam mendorong pengembangan pariwisata, pada tahun 2018 Arief Yahya selaku menteri Pariwisata menekankan pentingnya perkembangan teknologi dalam mendorong sektor pariwisata di Indonesia.

Oleh karenanya Kementeriannya mendorong Pariwisata 4.0 agar membawa hasil signifikan pada sektor pariwisata Indonesia. Peringatan Hari Pariwisata Dunia (Word Tourism Day) sudah diperingati pada 28 september 2018 yang lalu dengan  membawa tema “Tourism and The Digital Transformation” atau sebagai Tahun Pariwisata dan Transformasi Digital.

Namun dalam penerapan menuju Pariwisata 4.0 dibutuhkan unsur lain, salah satunya adalah Generasi milenial yang sudah berkompeten dalam industri revolusi 4.0. Generasi Milenial adalah generasi yang berusia antara 22 tahun sampai 37 tahun dengan rata-rata kelahiran antara tahun 1981 hingga tahun 1996.

Menurut survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Generasi Milenial menjadi paling dominan dalam penggunaan internet. Internet sangat bermanfaat mengenalkan potensi wisata daerah kepada semua orang baik dalam skala nasional maupun internasional.

Dapat melihat generasi milenial yang lebih suka menghabiskan waktu dan materi untuk piknik. Ini tentu akan sangat baik ketika pemanfaatan internet dengan suka piknik dikolaborasikan dengan pengenalan tempat piknik kedalam dunia digital. Dan dua hal ini dimiliki oleh generasi milenial.

Image result for gambar tentang dampak revolusi industri 4.0

Dan yang terjadi sekarang adalah

Di era Revolusi Industri 4.0, berbagai jenis pekerjaan profesi diprediksi akan hilang dan digantikan dengan robot atau komputer. Pekerjaan yang sangat rentan hilang adalah pekerjaan yang repetitif. Bahkan sudah berkembang kepada pekerjaan yang sudah mengandalkan skill tinggi dan pengetahuan. Pekerjaan yang diprediksi akan hilang seperti pemberi layanan konsumen (costumer service), supir, kasir bank, penerjemah, apoteker, DJ radio, pengarang lagu, dan bahkan pengarang buku. Layanan konsumen saat ini bisa digantikan dengan robot chat yang secara otomatis menjawab pertanyaan konsumen, supir digantikan oleh teknologi kendaraan tanpa supir, kasir bank sudah digantikan mesin otomatis transfer atau menarik uang, penerjemah digantikan alat atau aplikasi yang level akurasinya mendekati 100%, sudah ada perangkat lunak yang menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat lagu, dan bahkan sudah ada perangkat lunak yang bisa menjawab permasalahan hukum yang lebih akurat dan efisien dari pengacara.

     Sementara itu pekerjaan yang terkait dengan skill tinggi, terkait dengan teknologi, dan bukan bersifat repetisi diprediksi akan bertahan. Pekerjaan tersebut seperti pekerjaan dalam industri kreatif, Information Technology, manajer, profesional, layanan kesehatan, pendidikan, dan jasa konstruksi akan bertahan.

    Di Indonesia sendiri beberapa industri otomotif sudah mulai melakukan automasi. Industri perbankan bergerak cepat melakukan automasi dan memangkas ribuan buruh. Hanya Bank Mandiri dan BRI yang konsisten menambah jumlah buruh dalam tiga tahun terakhir. Sementara jumlah buruh di Bank BCA pada tahun 2018 menurun 2%, BNI menyusut 1169 orang pada tahun 2018, dan penyusutan terbanyak adalah Bank Danamon yang memiliki buruh sebanyak 44.019 pada 2016 menjadi hanya 32.299 pada 2018 atau berkurang 11.720 orang. Tidak heran serikat buruh berpendapat bahwa Revolusi Industri 4.0 berdampak pada banyaknya jumlah pengangguran.

Image result for gambar tentang dampak revolusi industri 4.0

Riset memprediksi bahwa sebanyak 800 juta pekerjaan akan hilang digantikan dengan automasi pada tahun 2030. Kemudian sebanyak 30% dari waktu kerja secara global dapat digantikan dengan mesin otomatis pada tahun 2030 tergantung seberapa cepat sistem automasi dijalankan. Meskipun demikian jenis pekerjaan baru yang terkait dengan automasi akan muncul. Mckinsey juga memprediksi sebanyak 375 juta pekerja di seluruh dunia (14% jumlah pekerja di dunia) akan membutuhkan transisi ke pekerjaan baru yang terkait dengan skill baru. Jika transisi ke pekerjaan baru berlangsung lambat, maka angka pengangguran dapat meningkat dan pertumbuhan upah akan menurun. maka dari itu dampak dari revolusi industri 4.0 sangan besar bagi masyarakat di Indonesia

Image result for gambar tentang dampak revolusi industri 4.0

Gambar di atas merupakan gambaran dari dampak terjadinya revolusi industri 4.0 yang akan selalu membutuhkan tenaga kerja robot, dari pada skill atau kemampuan yang di miliki oleh manusia. dan jika dibiarkan menurut saya lama kelamaan kehidupan manusia akan bertergantungan oleh adanya robot, jika tidak di cegah dengan selalu menggunakan skill atau kemampuan yang manusia miliki, maka akan terjadilah seperti gambar diatas.

Image result for gambar tentang dampak revolusi industri 4.0

Memang dalam era ini kita sangat dipermudah untuk berkomunikasi dengan orang yang belum kita kenal atau pun yang sudah kita kenal. tetapi jika terus seperti ini manusia bisa di perudak oleh adanya internet dan akan hidup bertergantungan. jadi seharunya bisa menyeimbangkan, dimana saatnya kita menggunakan internet atau media social, dan dimana kita saatnya menggunakan buku dan berkomunikasi langsung dengan semua orang agar bisa mengetahuin sesuatu yang sebenarnya terjadi, dan tidak akan timbul adanya hoax. Terima kasih

Travel Digital Era Millenial

Mungkin tak banyak yang menyadari, telah terjadi pergeseran demografi audiens media di Indonesia. Media cetak yang dulu identik dengan pembaca tua, kini audiens-nya kian meremaja. Merosotnya tingkat konsumsi media tradisional misalnya, selama ini lebih banyak ditinjau terkait agresifitas penggunaan media online. Jarang yang meninjaunya di aspek karakteristik dan perilaku demografik. Tapi ketika secara berturut-turut mendapatkan sejumlah penghargaan berbasis demografik, baik di tingkat Nasional maupun Internasional, makin banyak kalangan akhirnya sadar, bahwa isu ini krusial. Bahkan menjadi penentu wajah lansekap media Indonesia, ke depan.

Menurut survey Roy Morgan, generasi Millenial dalam komposisi pembaca Koran Jawa Pos, mencapai 56% (bahkan di area Greater Surabaya mencapai 58%) dari total readers. Sejumlah 70%-nya adalah perempuan. Data statistik ini membantu menjelaskan, kenapa JP langganan jadi juara kompetisi berbasis demografik.

Karakter generasi Millenials ini sebenarnya berbeda antar satu dan lain Negara. Tapi efek borderless dari globalization, juga konsekuensi percepatan perubahan yang di­-drive pengaruh social media,serta beragam bentuk inflitrasi Western culture, membuat profil Millennials praktis saling mirip satu-sama-lain.

Beberapa sifat umum generasi Millenials misalnya: self-centered, dan overconfident. Walau kerap dianggap pemalas dan generasi anak manja, mereka juga optimistis, sekaligus pragmatis. Haus perhatian, narsistis, butuh pengakuan dan suka tindakannya diapresiasi.

Sayangnya, para Millenials ini juga identik dengan perilaku anti-kemapanan, dan tak suka serba-diatur. Sehingga di mata yang lebih senior, mereka ini dianggap kurang memiliki komitmen, apatis, empatinya minim, tidak disiplin, dan semau gue.

Dalam hal habit bermedia, para Millenials umumnya adalah gadget freak. Sehari-hari, mereka mempersenjatai diri dengan minimal dua gadget, atau smart phone,atau kombinasi digital devices lainnya.

Umumnya, piranti digital yang dipakai, berkemampuan sebagai kamera foto atau perekam video. Ini substansial bagi Millenials. Sama pentingnya dengan kebiasaan rajin meng-update status tentang yang sedang mereka konsumsi, lakukan atau pikirkan. Karena para Millenials ini ingin apa pun tentang mereka, orang lain ikut tahu, dan ramai membicarakannya.  

Padahal, isi percakapan antar-sesama Millenials sebenarnya cuma hal-hal yang remeh temeh dan ‘tak penting’. Tapi, mereka melakukan dengan antusias. Seakan yang dilakukan adalah hal yang penting. Maka, yang buat kebanyakan orang dianggap perkara sepele, jangan buru-buru disimpulkan layak diabaikan. Karena jika para Millenials asyik mempercakapkannya, berarti itu perkara penting –setidaknya buat mereka.

Mau tak mau, pertumbuhan segmen ini akan dan telah sangat mempengaruhi industri komunikasi, pemasaran, keuangan & perbankan,  gaya hidup (traveling, shopping, dining) –termasuk mendorong berubahnya cara pengemasan dan penyajian  serta pengaturan menu di resto cepat saji. Bahkan hingga mempengaruhi peran, fungsi dan cara baru bermedia.

Para politisi pun, mau tak mau, harus aware dengan perubahan ini. Agar ke depan bisa menjangkau dan merangkul kaum Millenials ini, menjadi konstituennya. Artikel lama tentang upaya Presiden AS Barack Obama menggaet segmen ini di masa kepresidenan yang pertama dan kedua, layak jadi pelajaran.

Gemar bertukar konten , pesan, data, visual adalah ciri kaum Millenials. Tapi yang mereka butuhkan bukan sekadar informasi, pesan atau berita ‘biasa’ dalam paradigma lama. Kriteria informasi yang dibutuhkan para Millenials ini adalah harus memiliki social meaning. Relevan secara kontekstual. Memperkuat bargaining bagi peers. Tak cukup sekadar shareable atau ramai jadi perbincangan khalayak, tapi pengaruhnya harus impactful.

Kunci:  Relasi media-audiens secara vertikal tak relevan lagi. Media harus menjadi bagian dari ‘kepentingan’ Peers. Menjadi part of the show. Karena bagi para Millenials ini, Media adalah perwujudan social idea. Medium partisipasi yang memungkinkan terjadi engagement. Sekaligus menjadi pencetus movement effect.

Bagi Millenials, Desain adalah aspek penting. Bukan sekadar pembeda, tapi merupakan cost of entry. Tapi seperti kata Steve Jobs, ‘Desain’ bukan sekadar soal bentuk atau rancang-bangun. Tapi tentang bagaimana secara fungsional, pengguna bisa mendapatkan kemanfaatan. Dalam hal penampilan misalnya, influencer dalam suatu peers, berkebutuhan bisa tampil cool  dan menjadi trend­-setter di mata audiens mereka. Begitu pun dalam mementukan pilihan merek atau produk, aspek desain, pun kemasan juga tampilan, menjadi pertimbangan utama.

Kunci: kecocokan chemistry antara spirit Millenials, terhadap imej merek, kemasan produk atau penyajian konten yang dipilih, mutlak. Media yang bisa diterima Millenial, adalah produk yang mengkombinasikan aspek jurnalisme editorial, desain kemasan dan content development. Yang bisa menunjang mereka tampil keren karena bikin mereka unik dan ‘berbeda’, well-informed atau lebih dulu tahu tentang sesuatu misalnya berpeluang dipilih.

Millenials juga cenderung lebih percaya ‘orang tak dikenal’, ketimbang kepada Merek. Para Generasi Y ini, umumnya sudah kebal propaganda iklan, iming-iming promosi atau bujuk-rayu salesman. Karena sejak lahir, mereka sudah dikepung dan dihujani bombardir pesan iklan dan promosi. Baik melalui media tradisional maupun online. Karena itu, mereka sudah imun. Mereka lebih percaya pendapat peers. Tapi sebagai kelompok kepentingan, peers ini lebih percaya kepada pendapat/opini ‘orang bahkan yang tak mereka kenal sekali pun ketimbang patuh kepada brand owner.

Satu sama lain Millenials umumnya saling connected 24 jam. Tapi mereka ternyata tetap butuh terlibat dalam percakapan personal. Media online atau social media memang menjadi piranti mereka saling berkomunikasi atau bertukar konten pesan yang umumnya isinya remeh temeh dan ‘tak penting’. Tapi digital platform bukan yang mereka gunakan, ketika membicarakan agenda krusial ‘mereka’ misal, terkait nasib, masa depan, dan peluang. Pembicaraan personal, secara face to­ face lebih mereka sukai.

Kunci: Media harus menyediakan sebanyak mungkin model dan saluran interaksi. Keterbacaan konten serta interaktivitas percakapan secara digital, tak mencukupi kebutuhan para Millenials ini. Bagaimana pun engagement paling optimal, adalah dengan kopdarGathering, reriunganatau jumpa secara offline, sangat direkomendasikan.

Walau mengakrabi kaum Millenials bukan soal gampang, tapi memahami kemauan mereka, mau tak mau, kini menjadi hal mutlak. Atau kita kehilangan peluang bisnis hebat di masa depan. Kita yang pilih.

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.

Design a site like this with WordPress.com
Get started